Si Juara Itu Bukan Aku

Cerita  Pendek

 


 

Si Juara Itu Bukan Aku

Bagian ke -1

 

Oleh  :   Sri Ariefiarti wijaya, S.Pd.

 

“Bu Febi, Hari kumat lagi di dalam kelas!” wajah Rio cemas dengan napas naik turun.

“Dia kejang-kejang lagi dari  mulutnya keluar busa seperti kapan hari. Teman-teman takut ketularan jadi tak ada yang berani menolong. Oki menambahi keterangan Rio dengan wajah lebih tegang.

“Ayo!” kugandeng lengan Rio menuju kelas 8D yang berada paling ujung di deretan kelas putra . Kuikuti langkah muridku dengan langkah cepat. Kusibak kerumunan siswa  yang terlihat cuma menonton. Kulihat Hari masih  kejang dengan busa yang meleleh di pipi sebelah kanan yang menyentuh lantai. Segera kuselipkan telapak tangan kiriku untuk menyanggah kepalanya. Kuusapkan beberapa lembar tissue yang tadi sempat kusambar sebelum menuju kelas.

“Hi...jijik!” Okan yang memang terkenal bandel di kelasku membuka suara setelah beberapa waktu anak-anak tak bersuara melihat apa yang terjadi di hadapan mereka. Kutatap dia dengan perasaan marah, dengan agak salah tingkah, Okan keluar dari kerumunan diikuti pandangan teman-temannya yang tidak setuju dengan tingkahnya. Kuminta murid-muridku mundur untuk memberiku ruang agar aku bisa leluasa membantu Hari. Kerumunan murid-muridku membuat aku gerah dan tak nyaman.

 Beberapa menit kemudian Hari tersadar. Dia begitu kaget melihat teman-temannya mengerumuni dan tanganku yang masih dalam posisi menyangga kepalanya. Dia segera duduk seolah ingin menghapus yang baru terjadi  dan berusaha meyakinkan aku bahwa dia sudah tidak apa-apa. Mungkin dia merasa malu atau malah gengsi.

Beberapa detik berlalu tak juga kumendengar kata Terima kasih” keluar dari mulut Hari.  Nyata-nyata dia tahu bahwa aku telah berusaha menolong bahkan dia tersadar ketika tanganku masih menyangga kepalanya. Batinku mengatakan  alangkah keras hatinya.

Hari bangkit dari duduknya, dia berdiri meski agak sempoyongan. Kupegangi lengannya, namun aku merasakan ada penolakan darinya dengan menggerakkan lengan agar tangannku terlepas. Aku tahu pasti rasa apa yang berkecamuk dalam hatinya. Terus –terang aku  tersinggung apalagi itu disaksikan oleh murid-murid. Namun sebagai orang dewasa aku harus bisa mengambil sikap disaat yang  kurang menguntungkan.  

Pernah orang tuanya aku panggil ke sekolah untuk membicarakan hal itu. Namun sayang, mereka  kurang kooperatif  dan cenderung kurang suka kuajak bicara perihal  yang terjadi pada Hari. Mereka anggap biasa karena Hari akan membaik tak lama setelah kejang-kejang. Penyakit epilepsi yang berusaha aku jelaskan pada merekapun tak sepenuhnya mereka tanggapi. Mungkin mereka malu untuk mengakui lantaran bagi mereka  epilepsi  bukanlah penyakit  fisik tetapi lebih  kepada aib keluarga.  

“Ayo istirahat di UKS dulu! Setelah kuat, ibu antar pulang!” kurangkulkan lenganku ke bahunya sebagai usahaku yang kedua kali setelah penolakannya.

“Tidak,Bu ! saya di kelas saja. tangannya menepis lenganku. Kali ini suaranya agak ketus untuk menegaskan sekali lagi bahwa dia benar-benar tidak mau.

“Oke kalau begitu!” aku tidak lagi berusaha memaksanya. Aku sangat paham akan perasaanya meski  agak kecewa karena dia menolak niat baikku. Kusibak anak-anak yang masih berkerumun melihat kejadian itu sambil kuberi tanda dengan tangan untuk bubar. Merekapun memberiku jalan untuk keluar. Keluar dari  perasaan  ingin cepat berlalu dari situasi yang bagiku sangat tidak mengenakkan.

Perasaanku sedikit reda setelah aku sampai di ruang guru dan duduk di kursi. Kuteguk air dalam  botol untuk lebih melegakan perasaan sedikit lagi.

“Ultah yang indah dong...” Bu Dini meledekku setelah tahu apa yang terjadi pada Hari di kelas.

“Kado ultah tepatnya!” jawabku getir. Ya, hari ini adalah ulang tahunku. Kalau  wali kelas putri selalu dirayakan  oleh muridnya, lain halnya denganku yang jadi wali kelas putra. Hari ini saja aku disuguhi dua peristiwa yaitu siswaku terserempet motor dan sakitnya Hari.

***

 

             Setelah kejadian itu,  aku melihat  Hari lebih cuek padaku . Apa yang kubayangkan bahwa dia akan jadi lebih baik di kelas justru jadi sebaliknya.  Hari tak lagi  bisa ramah bahkan kepadaku wali kelasnya. Aku tak pernah berharap dia merasa berhutang budi padaku  atau mengambil hatiku karena alasan itu . Paling tidak, dia harusnya  baik-baik padaku karena akulah yang selalu membantunya bila dia sakit. Aku bisa saja tak peduli dengan sikapnya,  tapi aku merasa aneh bila murid yang selalu kuperhatikan berbalik tak menyukaiku.

“Feb, ada cerita tentang murid kesayanganmu. tangan  bu Dini menahan lenganku saat aku lewat disamping kursinya.

Kalau murid kesayangan berarti ada berita baik dong. Emang ada yang berprestasi lagi?”

“Nggak!”

“Lantas?”

“Tuh si Hari, kemarin dia pulang duluan saat pelajaran jam ke-5. Lonpat pagar lagi!”

“Astaghfirulllah...” cuma itu yang bisa keluar dari mulutku. Terus terang aku merasa geram dan tak sabar segera menanyakan itu pada Hari untuk menyelesaikannya.

“Bayangkan kalau dia celaka,  jatuh dari pagar setinggi itu, atau pas lompat pagar epilepsinya kumat bagaimana jadinya?”

“Aku juga tak habis pikir dengan tingkah lakunya akhir-akhir ini. Bukannya dia prihatin, eh..malah unjuk rasa melulu membuatku sakit hati.

“Pasti ada sebabnya. Tak mungkin dia jadi begitu. Coba saja kamu cari tahu,  misalnya  memanggil orang tuanya atau mengorek keterangan pada sahabatnya!”

“Dia tak punya sahabat. Orang tuanyapun telah kupanggil dan bukannya  berusaha paham malah mengatakan Hari baik-baik saja dan tak perlu dikahawatirkan.  Aku sudah jelaskan kemungkinan bahwa Hari menderita epilepsi.”

“Aduh, rumit kalau begitu! Apa kau tak pernah minta bantuan BK untuk menyelesaikan ini?”

“Kupikir aku bisa menyelesaikan sendiri. Aku tak menyangka kalau lama-lama menjadi parah. Nanti aku temui Bu Anita untuk minta bantuannya.

“Tadi bu Anita mencarimu. Entah ada perlu apa.”

Pembicaraan dengan Bu Dini lumayan mengusik hati. Ada perasaan mengganggu tentang Hari. Aku sebenarnya sangat menyadari bahwa apa yang dilakukan Hari tak harus menjadi masalah pribadiku.  Aku tak harus memikirkannya dalam-dalam karena bagaimanapun Hari sebatas muridku yang ada batas pula aku memikirkannya. Tak sekali dua teman-teman guru menasihatiku untuk tak terlalu memikirkan murid hingga menjadi problem, terbawa sampai rumah bahkan membuatku jadi stres. Tapi inilah aku yang sering merasakan lebih pada sebuah hubungan. Bentuk tanggung jawab ataukah perasaan yang berlebihan terus terang menjadi kabur bagiku. Teman-teman bilang aku selalu melakukan tugasku dengan hati. Apakah harus kusalahkan perasaan itu? Mereka bilang tampangku sangar tetapi perasaanku seperti ibu peri.

 

Beberapa hari ini aku masih memikirkan cara untuk menemukan pencuri kamus Lukman dan pencuri uang Raka. Jalan seperti buntu. Aku sudah meminta siapapun yang mencurinya menemuiku untuk berbicara baik-baik dan aku janji tidak akan memberinya sanksi atau mengatakan pada siapapun. Tapi seminggu berlalu tak ada seorangpun yang datang menemuiku meski aku sudah luangkan waktu satu jam selama seminggu untuk tidak pulang bersama teman-teman guru. Aku berharap ada keajaiban, satu murid datang kemudian mengaku. Yang jelas semua masih gelap dan membuatku menjadi tak yakin aku bisa menyelesaikannya sendiri.


***

Bersambung

Bondowoso,16 september 2020

Komentar

  1. Bu Guru semoga sehat selalu ya...walau seringkali murid menyakiti perasaan guru,maaf guru tak cukup seluas samudra biru ..

    BalasHapus

Posting Komentar