Selembar kertas
undangan yang diantar Yatno adalah jawaban dari keresahan Parmin yang tak bisa
menjawab apa-apa saat pagi tadi istrinya bilang tak ada lagi beras yang bisa
mereka tanak untuk makan malam. Undangan haji Yasin bak oase di padang pasir bagi
para kembara sepertinya. Kalangan kelas bawah yang tak selalu mendapatkan apa
yang diusahakan. Namun undangan itu bukan sekedar berarti makan malam
untuk istri dan kedua anaknya, tetapi berarti pula beras 3 kilo dan lauk yang
cukup untuk 3 hari kedepan. Pak haji yang kaya raya itu selalu membagikan
amplop berisi 100 ribuan pada setiap orang yang hadir di tiap acara kenduri
yang diadakannya.Tak perlu malu menjadi semacam tukang kenduri bayaran lantaran
seisi rumah megah itu tak pernah mengenal tetangganya. Mereka tak pernah
membuka rumah kecuali saat memerlukan orang-orang semacam Parmin untuk kenduri
saat mereka punya hajat.
Istri dan kedua
anaknyapun bersuka-cita membayangkan oleh-oleh nasi berkat yang tergolong
istimewa untuk kelas kampung mereka. Terbayang wadah cantik dengan aneka rupa
kue dan masakan lezat seperti sebelumnya. Selembar uang 100 ribuanpun menjadi
tanda stok beras aman untuk sementara. Parminpun dengan lega mengijinkan istri
dan kedua anaknya pergi ke kampung sebelah. Mertuanya sakit dan mereka secara
bergantian menunggui. Baju koko putih sudah disiapkan istrinya tanpa lupa
mewanti-wanti Parmin untuk datang tepat waktu ke kenduri. Mereka akan pulang
selepas maghrib bila sudah ada gantiyang menjaga mertuanya.Untuk mengisi waktu
yang masih 3 jam lagi Parmin memilih membetulkan kandang ayam yang telah rusak
tersebab tak ada waktu memperbaiki karena sebagian besar waktunya telah
diserobot oleh kesibukan mencari nafkah.

Tak jadi kenduri ...gara ktiduran he he
BalasHapus