Cerita Pendek

Si Juara Itu Bukan Aku

( Bagian ke -2)

Oleh : Sri Ariefiarti Wijaya, Spd.


    Dari kejauhan , suasana di depan kelas 8D terlihat gaduh . Mulanya kupikir situasi biasanya menjelang pulang. Ternyata ada hal yang tak biasa.Aku bergegas untuk mengetahui apa yang terjadi. Di hadapannku dua siswa berkelahi, saling pukul dengan amarah yang luar biasa. Tak seorangpun dari teman mereka yang mencoba melerai. Mereka hanya menonton dengan wajah cemas.

”Berhenti! Berhenti!” kutarik satu siswa ke sebelah kananku sedang yang satu kutarik ke sebelah kiriku. Hari yang berada di sebelah kiriku masih berusaha memukul Dimas yang berada di sebelah kananku. Kusentakkan tangannya dengan kasar sehingga tangannya gagal mendaratkan pukulan pada Dimas.

“Ayo! Teruskan! Teruskan kalian berkelahi! Akan ibu bawa kalian ke lapangan sehingga semua bisa melihat betapa hebatnya kalian berdua!” tanganku yang memegang lengan mereka bisa merasakan guncangan emosi dari keduanya. Akhirnya kulepaskan peganganku.

”Hari duluan,Bu yang memukul. nyala di mata Dimas memperlihatkan dendam yang sangat dalam.

“Kau  duluan yang menghinaku! suara Hari bergetar dengan nafas memburu dan mata merah penuh amarah.

Berarti apa yang disampaikan Bu Dini tentang Hari mendekati kebenaran. Aku merasa tak lagi mengenal sosok Hari. Semakin lama dia semakin jauh dariku. Kugelandang keduanya melewati koridor menuju ruang BK. Bu Anita tidak di tempat namun kusuruh keduanya duduk di kursi di samping kanan kiriku.

“Apa tidak ada penyelesaian yang lain selain dengan cara berkelahi?” kubuka kebekuan di antara mereka yang sama-sama tertunduk. Apakah ini hasil dari kalian menuntut ilmu? Jadi tukang kelahi?”

“Dia yang duluan,Bu! Dia meninju perut saya!” Dimas bersuara keras masih dengan emosi.

“Kau mengataiku berpenyakit ayan! Kau mempermalukan aku di depan teman-teman!” Hari tak kalah sengit.

“Bukan penyakit ayan yang membuatmu malu kan? Kau mencuri kamus Lukman dan uang Raka!”

Hari tak melakukan apa-apa untuk membalas. Dia tertunduk  menekuri lantai yang ada di depannya. Sibuk mempermaikan jemarinya. Sedang hatiku terlonjak kaget mendengar apa yang dikatakan Dimas. Aku tak dapat mempercayai apa yang baru aku dengar. Kecewa! kata itu yang lebih pas untuk menggambarkan perasaanku. Aku sedemikian percaya pada Hari, tapi kali ini kepercayaan itu runtuh. Betapa sulit merangkul hatinya, meluluhkannya, atau membawanya ke dalam pemikiran yang baik. Kalau kemarin-kemarin aku masih punya keyakinan bisa mengubahnya , tapi hari ini bukan kelanjutan dari hari kemarin. Hari ini adalah hal yang baru yang berbeda sama sekali.

“Dimas, kau boleh pulang duluan! Besok kita bicarakan semuanya.”  Dimas berlalu dari sebelah kananku.Tinggal aku dengan Hari yang tetap membisu. Aku jadi tak punya gagasan untuk sesuatu yang akan kusampaikan. Rasanya apa yang tadi dikatakan Dimas sudah cukup bagiku untuk memberi sanksi bagi Hari. Apa yang telah dia lakukan telah membuatku tak hendak membelanya lagi.

“Kau mau bilang apa kali ini?” pertanyaan itu keluar dari mulutku begitu saja. Aku berharap dia bisa ngomong apa saja yang dia ingin tanpa menjawab satu-satu intrograsiku. Kutunggu dua menit lebih dia tak bergeming, tetap pandangannya menekuri lantai dan ujung sepatunya.  Apa alasannmu kali ini?” aku berada di antara perasaan jengkel dan putus asa.

“Tidak,bu!”

Maksudmu perkataan Dimas tadi tidak benar?”

"Benar." Haribersuara lirih.

"Apalagi yang kau lakukan,Har?"

“Bu Febi telah membuat saya malu!” suaranya bergetar dan aku tahu susah payah kalimat itu dia ucapkan. Aku seperti ditampar dengan kalimat Hari yang baru saja meluncur dari mulutnya. Kurasakan aliran darah hangat berdesir merambat kekepalaku.

“Apa yang telah ibu lakukan? Apa yang telah mempermalukanmu?" aku cemas menunggu jawabannya. Dan sejurus kemudian kulihat dia menyeka matanya. Hari menangis! itu yang membuatku sedikit tertegun.Ternyata dia punya perasaan juga.

“Ibu bilang pada teman-teman bahwa saya epilepsi, ayan! Saya malu! Ibu tak punya perasaan!suaranya meninggi dengan kedua tangannya menutup muka, bahunya terguncang karena tangis yang menyesakkan. ”Ibu kejam pada saya!” tangisnya semakin keras.

Kami terjebak di situasi perasaan masing-masing. Mungkin Hari telah lega menumpahkan perasaan dan amarahnya padaku. Sedang aku? Aku justru seperti terlempar ke perasaan bersalah yang tak kutahu dengan jelas.

“Ibu tak ingin membela diri atau mengelak, itu ibu lakukan agar teman-temanmu tahu apa yang terjadi padamu sehingga mereka tak salah tafsir dan bisa memberi pertolongan padamu. Ibu ingin mereka paham. Itu bukan penyakit memalukan, itu biasa!”

Mereka tak pernah paham! sejak itu saya hanya sebagai bahan ejekan!” suara Hari masih sengit. Dia tak berusaha memahami apa yang baru saja aku katakan.

"Apakah Bu febi harus menjelaskan panjang lebar bahwa epilepsi adalah gangguan sistem syaraf pusat akibat pola aktivitas listrik otak yang tidak normal?" kurasakan nada suaraku meninggi.

"Mereka juga tak paham!" Haripun tak kalah bernada tinggi.

"Apakah bu Febi harus memaksa mereka untuk paham? Tidakkah penjelasan itu seharusnya sudah cukup untuk dimengerti?"

  "Saya tidak tahu!"

“Bu febi berkewajiban meluruskan apa yang terjadi padamu sehingga bila terjadi sesuatu kamu bisa tertolong. Kau tahu, bahwa itu bisa kambuh sewaktu-waktu sehingga hal sekecil apapun bisa mencelakai bila tak ada yang mengetahui."

Hari tak bergeming dengan penjelasannku. Aku menduga dia sudah cukup paham akan niat baikku.

“Baiklah! Bagaimana dengan kamus Raka dan uang Lukman?” nada bicara kubuat sedemikian rendah agar dia tak bereaksi keras bila apa yang dituduhkan Dimas tidak benar. Beberapa saat dia diam. Aku lihat dia sudah lebih tenang meski sibuk memainkan jemarinya.

“Saya yang mengambilnya!” tangis Hari pecah lagi. Kali ini lebih keras dari yang pertama.

Har..apa yang terjadi padamu? Ibu tidak menyangka! Ini bukan masalah sepele, Har! Ini serius!” kutatap Hari yang semakin tenggelam menyembunyikan wajah dengan kedua telapak tangannya. Ada butiran air mata yang memaksa menyusup lewat jemarinya yang tertutup rapat. Kusentuh bahunya untuk menguatkan hatinya namun dia menolaknya.Dia tepiskan tanganku. Aku kecewa atas penolakan Hari padaku padahal dengan sekuat hati hal itu aku lakukan. Alangkah sulit mencuri sedikit saja hatinya.

“Semua pasti ada alasannya. Kalau boleh ibu tahu mengapa itu kau lakukan? Susah payah ibu membelamu di depan teman-teman sekelasmu tetapi kamu justru mengkhianatinya,Har!” tangis Hari semakin keras. ”Ibu butuh pengakuanmu kali ini! Jangan membuat semuanya tambah susah untuk dimengerti!” aku sedikit mendesaknya.

“Mengapa bila kamus Raka yang hilang atau uang Lukman yang hilang semua seperti kebakaran jenggot? Semua sibuk membantu mencari!” suaranya  meninggi.

“Oh..maksudmu semua harus dibiarkan tanpa diusut, tanpa dicari,  sehingga murid-murid sekolah ini bebas lakukan itu?” aku tak mau kalah dengan suaranya yang meninggi.

“Pernahkah guru-guru membantu saya ketika buku saya hilang? Semua mengatakan itu salah saya sendiri. Pernahkah guru-guru termasuk Bu Febi mempercayai saya? Ibu tidak adil! Ibu pilih kasih

Aku tertampar dengan kalimat Hari. Pandanganku nanar melihat ekspresinya yang menyiratkan amarah. Beberapa saat kemudian aku baru bisa menguasai perasaanku yang cukup terluka dengan kalimatnya.

“Kau pulanglah!”Kutinggalkan Hari di ruang BK. Jelas aku tak akan tahan lagi mendengarkan ucapannya yang mungkin masih  lebih banyak yang dia simpan. kebenaran yang selama ini mungkin  kuabaikan. Koridor menuju ruang guru terasa lebih jauh dari biasanya. Begitu lama kurasakan kakiku menapakinya.

Kuhempaskan tubuh ke kursi kerjaku. Air mata tak lagi dapat kubendung. Masih terngiang ucapan Hari yang mengatakan aku tak adil, pilih kasih atau mungkin masih banyak lagi yang akan membuatku tak tahan mendengarnya.

 

Ya, Hari mengatakan kebenaran yang dia rasakan dan itu harus kuakui. Aku ingat, suatu hari dia mengatakan bukunya hilang dan dengan ringan aku menyuruhnya mencari sendiri dulu dengan rasa hanya setengah percaya. Itu terulang dua minggu kemudian dengan cerita yang sama Akupun mengulang kalimat yang sama pula agar dia mencarinya dulu. Setelah itu Hari tak pernah lagi membahasnya dan aku tak tahu apakah buku itu telah dia ditemukan.

Kuambil  map bermotif batik berwarna cokelat dari dalam laci. Kubuka  map yang dua minggu lalu aku terima dari tangan bupati.  Tepuk tangan meriah dan ucapan selamat yang begitu banyak mengalir dari guru-guru dan para pejabat yang waktu itu hadir dalam rangka memperingati Hari Pendidikan nasional. Di alun-alun kota selebar itu aku merasa menjadi istimewa. Alunan lagu "Padamu Negeri" yang mengiringi penyerahan piala semakin meneguhkan hatiku untuk mendidik anak bangsa lebih baik. Ya, aku adalah  salah satu peraih guru berprestasi  se kabupaten. Namun kini, yang hadir dalam perasaanku adalah malu. Aku tak pernah jadi juara untuk Hari, tak pernah dia menangkan aku  di hatinya, bahkan dia katakan aku adalah guru yang tidak adil. Menjangkau hati Hari saja aku tak mampu, bagaimana mungkin mampu menjangkau hati lain yang lebih banyak? Hari  telah berkata jujur dan membuka mataku tentang apa yang tak aku lihat. Harilah juri lomba itu!

 

 

 

 

 

 

 

Bondowoso, Juni 2020

Untuk muridku, inspirasiku


Komentar

  1. 😂😂😂😂terimakasih telah diingatkan untuk lebih memahami anak anak didik kita

    BalasHapus
  2. Beruntung ada murid Hari...yg menyadarkan hati bu guru
    Selain murid Hari juga ada Pak Hery dink😊😊😊

    BalasHapus

Posting Komentar