ceita pendek
Oleh : Sri Ariefiarti Wijaya
45 Menit Menyibak Ombak
ferry yang akan menyeberangi Selat Bali sudah
menutup pintu siap berangkat. Aroma besi kapal dan air laut mulai akrab di penciuman. Deru mesin kapal
juga telah menyatu di telinga ditingkahi angin yang berhembus kuat di bulan Agustus.
Musim ombak menghadirkan sesuatu yang agak berbeda. Penumpang yang biasanya memilih
duduk di dek samping kapal menikmati ombak dan desir angin, kali ini lebih banyak
yang memilih duduk di ruang penumpang.
Blast sudah dibunyikan. Kapal
perlahan mulai bergerak memulai pelayaran. Penumpang yang memilih tetap duduk
di dek kapal berusaha bersahabat dengan angin dan ombak yang mengguncang kapal lebih
keras di bulan ini. Burung-burung camar
yang menyambar ikan tak selincah biasanya. Sayapnya tertambat hempasan angin hingga
beberapa kali tertahan tanpa gerak di udara. Dara laut berwarna putih yang
terlihat jinak itu mengikuti kapal dan sesekali menguak dengan keras. Beberapa
bahkan nampak bertengger di tiang kapal melepas penat.
Hanya 45 menit waktu yang harus
dilalui untuk menyeberang Selat Bali. Tak
terlalu lama untuk mengantar Arini melepas penat hati.
***
Lima menit kapal meninggalkan
pelabuhan. Masih terdengar hiruk pikuk kapal yang lalu lalang dan suara-suara mobil
bermuatan berat keluar masuk beradu dengan besi kapal di pelabuhan yang
ditinggalkannya.
Angin
kencang sesekali mempermainkan kerudung yang ditahan Arini dengan tangan. Kacamata
hitam yang dipakainya lumayan untuk
menahan sinar matahari yang hampir tepat
di atas kepala. Blouse putih panjang
dipadu jeans biru terang dan sepatu kanvas krem membuat penampilannya segar menyatu dengan
warna laut yang terang. Sendiri duduk di dek kapal menjadi pilihannya. Dia coba
merasakan angin dan pemandangan laut yang bisa dinikmatinya. Sekelompok
anak-anak muda yang beberapa tahun lebih muda darinya menyanyikan lagu-lagu
cinta dengan gembira, menghibur dan
mengalihkan perhatian dari kegundahan hati.
Kepak sayap camar yang menukik tajam
ke air laut mencuri perhatian Arini. Burung putih yang anggun dan kuat itu sesekali
hinggap di tiang kapal seolah menunggu angin sedikit reda. Sebentar kemudian
dia terbang mengitari kapal, menukik
tajam, dan berhasil membawa buruan . Dalam hatinya dia kagum pada burung yang
dirancang untuk menembus badai itu. Sendiri menerjang badai adalah hal yang
luar biasa baginya. Dia bandingkan dengan dirinya yang gamang memandang pulau
yang tampak dari kejauhan. Pulau yang menjadi tujuannya meletakkan masalah
walau untuk sebentar. Sebentar semangatnya meletup, sebentar hatinya pedih
membayangkan pergi ke sana seorang diri tanpa sesiapa yang menemani. Terselip
rasa dia telah menjadi egois dengan pergi meninggalkan anak-anak, ibu dan
ayahnya dengan alasan menenangkan diri.
Bali, adalah tujuannya kali ini.
Untuk beberapa waktu akan dicobanya melupakan kepenatan pikiran dan mengembalikan
energinya yang telah terkuras untuk memikirkan masalah rumah tangganya yang
pelik. Sudah satu kali dia menghadiri sidang perceraian dengan Alfin. Pada mediasi
yang dilakukan di pengadilan sengaja tak dia berikan ruang sedikitpun untuk Alfin yang telah
menghancurkan rumah tangga mereka. Mungkin ibu mediator yang begitu sabar dan
bijak itu tak habis pikir dengan Arini yang tak sedikitpun memberi sinyal akan menimbang-nimbang
keputusannya. Tak ada kata damai darinya untuk menghukum laki-laki yang
menyia-nyiakannya dan anak-anak. Ingin
rasanya dia tak menunggu 14 hari untuk melanjutkan persidangan berikutnya. Yang pasti dia akan tetap pada keputusannya .Dia
tak habis pikir bagaimana suaminya tega menyakiti namun meminta untuk kembali.
Mungkinkah dia sudah lupa bagaimana cara
mencintai? Ataukah kembali karena di luar sana ternyata dia tak menemukan apa
yang dia cari?
“Aku minta maaf!” Alfin berusaha
mendekatinya sebelum masuk ruang persidangan. Dipegangnya pergelangan Arini
dengan penuh harap.
“Sudah kumaafkan!” Suara Arini ketus
menghindarai tatapan Alfin.
“Tapi bukan begini caranya.” Alfin
berusaha mempengaruhi keputusan istrinya.
“Kita akan berdebat terus tanpa
ujung? Tanpa ada yang mengadili kita? Sampai kita lelah bertengkar?” suara Arini
meninggi mengibaskan tangan alfin.
“Kita perbaiki semua.” Alfin
memohon.
“Sudah pernah kan? Kamu rusak lagi!”
Arin berusaha menepis tangan Alfin yang mencoba memegang lengannya.
“Satu kali ini saja! Setelah itu tak
ada lagi.”
“Kau pernah ucapkan itu ribuan kali.
Dan kau lakukan lagi!”
“Beri aku kesempatan sekali lagi!
Kau dan anak-anak adalah hidupku.” Kali ini suara Alfin tercekat.
“Sayang kau telah menghancurkan hidupmu
sendiri.”
Tak dihiraukannya tatapan laki-laki
yang pernah dia cintai sepenuh hati yang memandangnya dengan
penuh harap. Laki-laki yang tak mempercayai bahwa cinta manusia ada batasnya. Kekagumannya tak berarti rela disakiti, hatinya tak seluas
samudra untuk menerima pengkhianatan yang kedua kali. Tak ada maaf bagi laki-laki
yang pernah berjanji tak akan pernah membuatnya menangisi cinta.
Agak jauh dari tempatnya duduk
sepasang suami istri paruh baya begitu mesra duduk berdua. Tak mereka hiraukan
angin yang berhembus kencang yang begitu terasa di dek kapal. Entah apa yang
saling mereka bisikkan sehingga sering tertawa bersama. Sesekali tangan
suaminya yang tak pernah lepas memeluk membetulkan syal yang dipakai istrinya. Beberapa
kali Arini mencuri pandang dengan iri. Bukankah dia dan Alfin sebenarnya lebih
mesra dari mereka? Bukankah itu hal biasa yang selalu dia lakukan bersama
alfin? Apakah semuanya akan berakhir, menjadikan kenangan dan terhapus
dari memorinya? Perlahan ada rasa rindu terselip di hati Arini.
Delapan
bulan dia pisah rumah dengan Alfin dan bertemu 4 hari lalu di pengadilan agama.
Sebenarnya ada ketakutan yang tiba-tiba menghampirinya. Ketakutan menghabiskan
masa tua seorang diri tanpa Alfin, Ketakutan melewati masa yang mungkin tak
bisa selalu bersama anak-anak, dan
ketakutan kesabaran Alfin yang bisa saja hilang karena egonya yang tak mau
memaafkan. Arini mencoba mengingat-ingat
celah yang mungkin masih bisa mengembalikan cintanya pada Alfin.
“Rin, kali ini aku sungguh-sungguh!
Maafkan aku dan kita mulai lagi semua.”
“Kau pikir semudah itu?”
“Tidak, tidak mudah bagimu. Aku
paham, tapi cobalah bersabar dengan
ini.”
“Bersabar? Kalau tidak bersabar bukankan
seharusnya kita sudah bercerai dua tahun lalu?”
“Bersabar sekali lagi untukku dan untukmu
sendiri. Aku sudah diuji dengan kejadian ini, aku tidak sabar, tidak mampu
menahan diri bahkan hingga terjadi dua kali. Kalau ini cobaan bagimu aku harap kau
bersabar. Jadikan ini ladang pahala untukmu masuk syurga,Rin!” Alfin menatap
penuh harap.
“Kau hanya mengikuti nafsumu saja,Mas!
Kau mungkin tak pernah iba melihatku menderita. Kau bersikukuh bilang tetap
mencintai tetapi di belakangku kau main api.” air mata Arini yang kesekian kali
tak dapat lagi dibendung.
“Aku mencintaimu, lepas dari apapun kesalahan
yang telah aku lakukan. Aku tahu aku salah padamu tapi juga tak seburuk
prasangkamu.”
“ Kau anggap aku berprasangka
setelah bukti-buktinya jelas?”
“Aku tak menyangkal tapi tak
semuanya benar. Mungkin sebagian besar lelaki dicoba dengan ini dan aku
termasuk yang lemah.”
“Aku lelah, Mas!”
“Kau boleh meminta bercerai dariku,
tetapi aku tak akan pernah menceraikanmu selamanya. Aku butuh kamu,Rin!
Anak-anak butuh kita.” Alfin menggenggam tangan Arini yang tak memberi respon
apa-apa.
“Jangan mengatasnamakan anak-anak
untuk kesalahanmu itu. Anak-anak mungkin sudah tahu tentang ini.”
“Itu adalah penyesalanku yang
terbesar selain menyakitimu.” Alfin tak
mampu membendung air mata mendengar anak-anak mereka disebut.
“Sepuluh tahun kita bersama kau
hancurkan begitu saja. Sia-sia semua yang telah kita lalui.”
“Justru
karena sudah sepuluh tahun akan aku perbaiki hingga Tuhan memanggil siapa
duluan di antara kita.”
“Sebenarnya kau bisa berpikir
positif. Sayang tak kau pergunakan .”
“Andai semudah itu, tak ada ujian kesabaran
dalam hidup manusia. Kalau Tuhan mengijinkan kita masuk syurga, aku ingin
bersamamu.”
Perdebatan
malam itu adalah terakhir kali sebelum dia
meminta Alfin pergi. Delapan bulan bukanlah waktu singkat untuk berpikir ulang
tentang perceraian. Jarak yang memisahkan justru membulatkan langkahnya untuk
bersikukuh pada keputusan. Arini merasa baik-baik saja dan nyaman selama
delapan bulan berpisah, sampai dia
melihat sepasang suami istri itu di dek kapal. Namun celah itu harus
ditutupnya, harus dilupakannya dia yakin
bisa melangkah sendirian.
Dipandanginya seekor camar yang
bertengger di tiang kapal. Dua camar yang memandang tajam ke kejauhan tampak anggun menahan angin
yang berhembus kencang. Tak sedikitpun mata tajam itu berpaling dari tengah
lautan. Kapal yang sedikit berayun diterjang ombak tak membuat pijakannya goyah
maupun gentar. Dia mengikuti iramanya untuk menyeimbangkan diri. Sebentar
kemudian dia terbang ke tengah lautan, menukik tajam dan terbang membawa mangsa.
Bersambung

Jadi penasaran ditunggu lanjutannnya...
BalasHapusMantap... Dialog2nya mengalir. Sy suka.
BalasHapusSaya tungg kisah alfin selanjutnya
BalasHapusHari Kamis baru ada lanjutannya. PR nya disetor hari Kamis. Ha.ha.
BalasHapusGak sabar nunghu hari Kamis😊
BalasHapus