45 Menit Menyibak Ombak

 Cerita Pendek

Sri Ariefiarti wijaya

45 Menit Menyibak Ombak

Bagian ke - 2


    Arini menjadi iri pada ketegaran dara laut itu. Hidupnya yang ditakdirkan keras melawan badai membuatnya kuat. Dia coba bandingkan dengan dirinya yang begitu rapuh ketika dihantam prahara. Cinta yang sedemikian besar pada suaminya justru membuatnya tak bisa berpikir jernih. Cinta telah membutakan mata hatinya sehingga tak pernah beranjak dari selalu merasa tersakiti. Dia hanya akan merasa puas jika Alfin terus memohon padanya. Dendamnya mengharuskan Alfin turut merasakan hal yang persis dengan yang dirasakannya atau bahkan lebih sakit.

            “Mau kemana?” Laki-laki yang sejak tadi tadi duduk di dekatnya menyapa. Arini sedikit terkejut dan tak siap dengan jawaban.

            “Ke Ubud.” sahutnya pendek.

            “Sendirian?”  kening laki-laki itu mengernyit.  “Rekreasi atau…” dia tak melanjutkan kalimatnya.

            “Ya, sendiri. Ada sedikit urusan.” dia berharap laki-laki di deselahnya tak bertanya lebih jauh lagi.

Arini sempat melihat sekilas wajah tampan laki-laki yang membuka obrolan dengannya. Hidung mancung dengan mata tajam dan rahang yang tegas membuat penampilannya menarik. Badannya  yang terlihat kekar dengan perut rata hasil olah tubuh yang baik menunjukkan gaya hidupnya yang baik pula. Kaos putih yang dipadukan kanvas krem dan topi warna senada berpadu serasi . Dia sempat pula mengamati sepatu gunung berbahan kulit merk terkenal yang dikenakan laki-laki itu. Ditaksirnya  harganya sangat mahal bahkan  fantastis. Tas kecil dan ikat pinggangpun tak memungkiri kelasnya. Jam tangan sport yang mungkin menjadi impian banyak laki-laki begitu pas berada di tangan kekar kecoklatan. Sebentar kemudian pikirannya berubah. Laki-laki di sebelahnya terlalu menarik untuk dia abaikan. Dia bukan tipe lelaki kebanyakan.

            “Tujuan kita sama. Pernah ke Ubud sebelumnya?”

            “Dua kali.Ini yang ketiga."

            “Ubud...nama yang identik dengan seni, budaya, dan keindahan pedesaan.” Laki-laki yang berada di samping Arini bersemangat.

            “Lereng hijau, sawah berundak, sungai alami, seni lukis, ukir, musik tradisional, adalah daya tarik yang membuat rindu datang kesana lagi.” Arini mengurai senyum membayangkan tempat yang akan dia datangi untuk ketiga kalinya. Suasana menjadi cair dengan permulaan obrolan yang sederhana.

            “Kau pernah mencoba rafting di Sungai Ayung?”

            “Ya! Itu pengalaman seru! Dan Bukit Campuhan!” wajah Arini berbinar. Selintas kenangan bersama Alfin 3 tahun lalu hadir dalam kenangannya.

            “Hm..bukit cinta! Sangat indah bila dikunjungi menjelang matahari terbenam.” Laki-laki di sampingnyapun mengurai senyum.

Tak butuh waktu lama untuk Arini dan laki-laki yang baru dikenalnya tenggelam dalam obrolan yang akrab. Dari pembicaraan mereka Arini bisa menilai bahwa laki-laki familiar di  sampingnya adalah laki-laki mapan, cerdas, dan suka petualangan. Pekerjaannyapun   menarik. Seorang arsitek dengan  ekonomi yang bagus. 

Berbincang dengan laki-laki itu membuat Arini merasa telah menyia-nyiakan delapan bulan hidupnya yang tenggelam dalam kesedihan. Dia merasa bahwa wajahnya  masih cukup menarik  dan otaknya yang cerdas mampu mengimbangi orang yang pintar di hadapannya. Yang ada dalam pikirannya  kini adalah Alfin  telah melakukan kesalahan dengan  menyia-nyiakannya. Sesekali mereka  tertawa karena kalimat-kalimat lucu yang bergulir begitu saja . Bahkan mungkin tawa itu adalah tawa terbaik Arini dalam waktu delapan bulan berseteru dengan Alfin. Yang sangat membuatnya nyaman, obrolan itu tak sedikitpun menyinggung status masing-masing sehingga tak perlu ada yang merasa bersalah dengan itu. Untuk beberapa waktu Arini sangat menikmati obrolan dengan lelaki menarik yang baru dijumpainya.

“Kita bisa bareng ke Ubud.” wajah laki-laki itu berbinar.

“Boleh!” Arini mengiyakan tanpa ragu. Ada angan tipis akan hadirnya kebahagiaan dengan melakukan perjalanan bersama laki-laki tampan di sampingnya.

            Seekor camar hinggap di pagar kapal. Dia tak menghiraukan orang-orang yang tertarik untuk melihatnya bahkan terkesan tak takut . Kakinya mencoba menyeimbangkan diri  ketika kapal berayun. Pandangannya jauh  ke depan seperti menunggu sesuatu. Arini tersadar melihat camar yang berdiri tegar sendirian. Hatinya berkata bukankah dia sendirian dan harus tegar seperti camar itu? Tapi apa yang dia lakukan dengan laki-laki yang baru dikenalnya?

 Tawa yang masih tersisa dari obrolan lucu dengan laki-laki di sampingnya meredup. Ada perasaan malu menyusup di hatinya. Perasaan mengkhianati niat awal yang  dengan sekuat hati dipertahankannya dari larangan ayah, ibu dan rengekan dua buah hatinya. ’Bukan ini yang aku cari' Kalimat itu seolah menyentakkannya.

            “Kenapa? Ada yang salah dengan kalimatku?”  laki-laki itu merasa heran dengan perubahan sikap Arini yang tiba-tiba diam.

            “Tidak ada! Maaf !” Arini berlalu meninggalkan laki-laki yang memandang keheranan menuju ruang penumpang .

            Di ruang penumpang yang kursinya hampir terisi penuh Arini duduk di dekat cendela. Ada perasaan lega telah terlepas dari sedikit kebahagiaan liar  yang sempat membuainya. Perasaan bahagia yang dia curi di sela-sela keyakinannya bahwa dia lebih baik dari Alfin. Perasaan bersalah pada orang-orang yang selama ini mendukungnya  pelan-pelan menguasai hatinya. Bila ini yang dia inginkan apa bedanya dengan Alfin suaminya? Rumah tangganya hampir karam karena diam-diam Alfin mencari kebahagiaan dengan perempuan selain dirinya. Kini dia sendiri yang diam-diam mencari kebahagiaan itu. Mungkinkah Alfin hanya berbuat sesederhana itu namun cemburu telah membutakan hatinya yang tak bisa lagi berpikir logis?

            Dirogohnya tas untuk melihat hp yang telah lebih dari satu jam tak dilihatnya. Lima chat Alfin dibukanya dengan penuh ingin tahu.

            'Aku ingin bertemu kamu dan anak-anak. Kalian sangat berharga  dan tak layak kusia-siakan. Aku salah! Tak aku sangkal! Beri aku kesempatan memperbaiki semua dan mencintaimu sebelum Tuhan memanggilku.'

                        Tak ada air mata Arini membaca tulisan Alfin, mungkin air mata itu sudah terkuras  delapan bulan ini. Yang ada kali ini dia ingin pulang untuk menemukan cintanya kembali. Dia tak ingin menikmati angan liar yang justru bisa menghancurkan cinta satu-satunya yang dia miliki. Bila apa yang ditawarkan Alfin bisa menjadi ladang pahalanya menuju Ridho Allah, dia akan menjemputnya.

            45 menit berlayar Arini telah menemukan titik dimana dia harus berhenti dan kembali. Kembali menempuh 45 menit untuk memulai hidupnya. Dara laut itu membuatnya sadar bahwa badai adalah bagian dari hidup yang harus dia lalui.


Selesai

Komentar

  1. Tak mudah memang menemukan kembali titik sadar jika bukan Dia sang Pemilik hati yang membukakannya kembali.
    Sebuah pesan moral yang manis , memaafkan jauh lebih mulia...

    BalasHapus
  2. Cerita yg manis dan menarik. Mantap deskripsinya ciri khas Jeng Wiji jd larut

    BalasHapus

Posting Komentar