Berpesiar ke 'Pantai Popok'
Manusiawi
rasanya bila di era New Normal ini ikutan memanfaatkan liburan melepas penat hati. Tak penat fisik karena
sudah beberapa bulan WFH (Work From Home ) alias bekerja dari rumah.
Pilah-pilih tempat wisata yang belum pernah dikunjungi menjadi sesuatu yang
cukup menantang. Pilihan jatuh ke eco wisata yang menawarkan laut bertepikan
hutan cemara.Terbayang di benak akan tempat berwawasan lingkungan dengan
mengutamakan aspek konservasi alam.Aspek pemberdayaan sosial, ekonomi
masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan menumbuhkan rasa ikut
bangga. Fisikpun disiapkan untuk menempuh ratusan kilometer menyambangi pantai
yang konon mampu mengembalikan pikiran menjadi fress kembali dan berenergi baru.
Mula-mula pikiran masih tetap positif
ketika benar-benar disuguhi deretan pohon cemara di jalan desa yang menuju ke
sana. Harum pucuk pina yang menyambut adalah bagian permulaan yang ingin
dijelajahi di sesi berikutnya. Lelah terbayar dengan sawah hijau yang masih
luas terhampar dengan ratusan bangau yang datang, pergi, dan terbang putih
memukau.
Tiket masuk yang hanya 5.000 tak ada
artinya dibanding angan yang terlanjur besar untuk segera menikmati suguhan
alam. Peran serta masyarakat sekitar yang terlihat dari pengurusan tiket dan
penjagaan menambah keyakinan kebenaran eco wisatanya. Tak lupa sederet protokol
kesehatan yang harus dipatuhi menambah salut bahwa tempat itu dikelola dengan
benar.
Jembatan bambu yang menerobos hutan
mangrove ditepi aliran sungai bukan satu-satunya spot yang menyambut pengunjung. Tulisan di
bawah patung salah satu satwa penghuni laut yang menjelaskan bahwa di sana adalah
tempat konservasi adalah tanda kesungguhan pengelola eco wisata untuk
memanjakan pengunjungnya. Begitupula deretan cemara yang cukup luas adalah
jawaban dari nama yang disematkan.
Laut biru serta suara deburan ombak pastilah
menjadi pemikat yang langsung ingin dinikmati. Namun alangkah kecewa ketika
hampatan pasir landai di tepi pantai tidak seperti yang diharapkan. Bukan
kerang atau karang laut yang terhampar di pantai tetapi hamparan sampah yang
luar biasa banyak sejauh pandangan mata. Hati tergelitik untuk meneliti sampah
apa saja yang mendominasi. Meski jijik berjalan di hamparan sampah namun rasa
penasaran lumayan besar. Tak habis pikir bagaimana hamparan pantai nan luas itu
menjadi hamparan popok bayi yang luar biasa banyak. Dalam ukuran satu meter
persegi saja bisa dijumpai 2 sampai 3 lembar popok bekas. Belum lagi jenis
sampah lain seperti sandal sepatu rusak dan berbagai kemasan dari plastik.
Tujuan membuat otak menjadi fres gagal. Ada
perasaan tidak terima dengan cara atau kebiasaan masyarakat yang membuang
sampah sembarangan. Ada kecewa mengapa pengelola ecowisata itu tak membersihkan
wisata andalan mereka sendiri. Ada kekhawatiran bagaimana mungkin tempat itu
menjadi penangkaran salah satu satwa laut yang dilindungi.
Akhirnya pulang tanpa ingin menikmati spot
yang lain karena tetap harus melewati hamparan sampah. Bukan kecewa dengan
karcis yang telah dibayar tetapi lebih pada perasaan khawatir bila seperti itu terus
berlangsung. Dibalik kecewa terselip harapan semua akan membaik setelah itu dan
isu tentang eco wisata yang juga merupakan tempat pendidikan akan berfungsi
sesuai dengan harapan semua yang merindukan hal-hal positif untuk manusia lain.
Bondowoso, 24 Agustus 2020
Sri Ariefiarti Wijaya

Wadau PR besar kita adalah menanamkan kesadaran cinta kebersihan dan lingkungan pd generasi penerus, agar ke dpan tak ada lagi ortu(mahmuda) buang samapah ke sungai.
BalasHapus